Sejarah yang Menyulut Lidah
Aku masih bisa membayangkan dapur rumah nenek: lampu minyak yang redup, wangi kayu manis yang menyelinap lewat ventilasi, dan suara gerimis kecil di luar jendela. Di sana, rempah-rempah bukan sekadar bumbu; mereka seperti cerita pendek yang menuntun kita ke masa lalu. Lada hitam, cengkeh, kain kunyit berwarna emas—semua itu ada di sana, menyelinap ke dalam sup hangat atau sekadar taburan kecil di nasi putih. Rasanya tidak sekadar pedas atau pahit; ada sejarah panjang yang meneteskan aromanya ke setiap sendok.
Secara singkat, rempah-rempah adalah bahasa perdagangan dunia kuno. Pulau Maluku di kepulauan Nusantara, misalnya, dikenal sebagai gudang rempah. Cengkeh dan pala yang harum, lada lada yang memantik sari percakapan antara pedagang dari Gujarat, Mesir, dan Pelabuhan Basra, sampai ke dermaga-dermaga Eropa. Rempah-rempah ini pernah menggerakkan jalur perdagangan seperti sungai besar: dari India ke Mesir, dari Laut Merah ke Laut Tengah, hingga ke kota-kota pelabuhan di Italia dan Prancis. Bayangkan bagaimana aroma itu mengubah peta politik, mendorong penjelajahan, bahkan memicu perubahan di meja makan istana. Aku suka memikirkan hal itu sambil menyiapkan secangkir teh; rempah bukan sekadar rasa, tetapi jejak waktu yang bisa kita peluk dengan sendok.
Kalau kamu menelusuri bacaan tentang rempah, kamu sering menemukan satu hal: rempah menjadi mata uang. Mereka membuat harga, menentuai pasokan, bahkan mengubah aliansi. Dalam beberapa abad, kota pelabuhan seperti Venice atau Lisbon hidup dari cerita-cerita tentang lada yang menggelapkan lompatan kapal-kapal dagang. Dan di balik angka-angka itu, ada orang-orang seperti kita yang menenangkan lapar dengan satu sendok sup hangat sambil membayangkan kapal-kapal berlayar di cakrawala. Bagi aku, itulah sebabnya rempah begitu hidup: karena mereka mengingatkan kita bahwa rasa juga bisa menjadi pelajaran sejarah. Ngomong-ngomong, aku sering mendapatkan gambaran yang sama ketika membaca kisah-kisah di storiesofspice; bagaimana rempah bukan hanya bumbu, melainkan cerita yang belum selesai.
Dari Lumbung ke Panggung Dunia
Bayangkan sebuah dapur kecil di mana lada hitam menyapa sumac, garam masala, dan harissa seolah-olah mereka sedang menyapa teman lama. Rempah-rempah menyebar karena manusia ingin menambahkan nyawa pada makanan sederhana: sup bening, nasi berbumbu, roti panggang dengan olesan minyak zaitun. Dari Goa hingga Maroko, dari Napoli hingga Jakarta, kita melihat bagaimana rempah mengubah cara kita memasak. Ketika lada masuk ke dalam kari di Asia Selatan, saat pala dan cengkeh menghiasi manisan-makanan manis di Eropa, rasa menjadi jembatan antarbudaya. Kita mulai belajar menyeimbangkan rasa pedas, asam, manis, dan pahit seperti seorang konduktor mengatur orkestra. Bahkan hidangan-hidangan sederhana kita bisa bertemu dengan teknik-teknik asing: taburan garam masala di sebuah semangkuk mie kuah, atau taburan kecil jintan pada tumisan sayur yang membuat ingatan kembali ke pasar-pasar tua di Marrakech atau Pune.
Aku pernah mencoba menyiapkan versi sederhana nasi goreng dengan sentuhan timur tengah: bawang putih, sedikit jintan, lada, dan selimut minyak zaitun. Rasanya tidak persis sama, namun ada kenyamanan menelusuri garis budaya yang bercabang. Dunia kuliner terasa seperti sebuah album foto berwarna hangat: setiap resep membawa kita ke satu negara, satu keluarga, satu memori. Dalam perjalanan itu, kita belajar menghargai peran rempah sebagai penyelaras rasa yang menyatukan tradisi lama dengan eksperimen kita hari ini.
Rempah sebagai Bahasa Budaya
Ketika kita memasak bersama keluarga, kita sebenarnya sedang menggunakan bahasa yang hanya bisa dipahami lewat bau dan rasa. Ada cerita yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata: bagaimana kunyit memberi warna pada rumah, bagaimana jahe menghangatkan percakapan yang mulai lelah, bagaimana ketumbar mengingatkan pada pasar pagi yang ramai. Rempah bukan hanya alat untuk membuat makanan enak; mereka adalah cara kita menghormati leluhur, mengundang tetangga, merayakan kelahiran, menandai perayaan, atau sekadar meredakan rindu pada rumah yang jauh.
Oleh karena itu, aku sering menyejajarkan rempah dengan bahasa. Setiap campuran memiliki dialek sendiri. Garam masala, misalnya, adalah puisi India yang mengundang semua indera untuk ikut bernyanyi: lada hitam, kapulaga, biji ketumbar, adas manis, kayu manis, cengkeh—semuanya berirama. Harissa di Afrika Utara membawa nada pedas yang membangunkan hari; sumac memberi kilau asam seperti cerita-cerita petualangan di bawah langit gurun. Ketika kita memasukkan rempah ke dalam hidangan, kita juga menyelipkan nilai-nilai, ritual, dan memori keluarga. Itulah mengapa rasa bisa terasa begitu pribadi, meskipun kita membagikan resep yang sama dengan teman-teman di belahan bumi lain.
Resep Dunia yang Mengikat Waktu
Kalau kita ingin merasakan perjalanan rempah tanpa perlu menelusuri atlas, kita bisa mulai dari beberapa resep sederhana yang mengekspresikan budaya berbeda. Garam masala buatan rumah bisa menjadi cetak biru kita: campurkan lada hitam, biji kapulaga, ketumbar, lada putih, kayu manis, cengkeh, dan sedikit pala. Sangai sebentar hingga harum, lalu tumbuk halus. Gunakan sebagai fondasi untuk kari sayur, tumisan daging, atau hidangan kacang. Harissa boleh dibuat dari cabai merah, bawang putih, jintan, ketumbar, minyak zaitun, dan sedikit garam; campurkan hingga pasta halus, lalu gosokkan ke daging atau sayur-panggang untuk sentuhan hangat yang berani. Za’atar, campuran thyme kering, sumac, wijen, dan garam laut, bisa membuat roti pipih terasa seperti perjalanan ke pasar-pasar Mediterania. Taburkan di atas roti, atau tambahkan pada hummus untuk kedalaman rasa yang menenangkan. Semua resep ini sederhana, tetapi mereka membawa kita menapak jejak perjalanan—dan juga menambah cerita di meja makan kita sendiri.
Intinya, sejarah rempah adalah cerita tentang kita. Setiap kali kita memegang sejumput lada atau mengusap telapak tangan dengan minyak zaitun yang harum, kita mengubah bahan menjadi kilau memori. Kita menambahkan catatan pribadi pada catatan sejarah yang panjang dan penuh warna. Dan jika suatu hari kita merasa ragu untuk mencoba sesuatu yang baru, ingatlah bahwa di balik setiap bumbu ada peluang untuk bertemu dengan budaya lain dan untuk menambah bahasa baru pada kuliner kita. Itulah petualangan kuliner kita: menyelam ke dalam sejarah, menyusun resep masa kini, dan menatap masa depan dengan mulut harum malam yang menenangkan.